Bahan Evaluasi HRD

Hai! Selamat Pagi! Akhirnya setelah sekian lama, saya mencoba membuka blog kembali dan mencoba menulis kembali. Dibawah ini saya mengambil cerita saya dengan oknum HRD karena saya juga masih melihat banyak HRD yang sangat baik dalam kinerjanya. Semoga cerita ini bisa menjadi evaluasi tambahan untuk pembacanya yaaaa... Damai dulu kita! ^.^

Saya lulus dari sebuah Perguruan Tinggi Negeri  (PTN) ternama di Indonesia, tidak ada maksud bersikap sombong, hanya saja memang sering disebut demikian oleh mayoritas penduduk Indonesia dan tentunya dibenarkan juga oleh banyak situs website yang didukung oleh banyak faktor penilaian.

Lulusan dari PTN ternama, tidak lantas menjadi jaminan bahwa setelah lulus akan langsung ada perusahaan yang tertarik untuk menerima saya menjadi salah satu bagian mereka layaknya pemikiran naif anak kelas 3 SMA ketika memilih sebuah perguruan tinggi negeri terbaik.

Saya lulus pertengahan tahun ini, berbarengan dengan kehadiran Covid-19 di Indonesia dan berbarengan juga dengan banyak larangan serta himbauan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia terkait hal tersebut. Kalau kita lihat kembali, banyak negara yang mengalami keterpurukan perekonomian, tidak terkecuali Indonesia, banyak juga perusahaan yang melakukkan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan penurunan pendapatan perusahaan sebagai alasan pembenarnya.

Singkatnya, mencari pekerjaan untuk seorang fresh graduation yang sudah sulit menjadi lebih sulit dimasa pandemi Covid-19. SABAR menjadi kunci utama untuk fresh graduation mencari pekerjaan di masa pandemi Covid-19 ini. Terlebih untuk mereka yang mengalami kelakuan “ada-ada saja” dari oknum-oknum HRD, maksud kelakuan “ada-ada saja” bukan dalam artian perilaku tindakan asusila. Yang saya maksud disini adalah ke-mager-an HRD dalam memberi kepastian. Atau mungkin memberi kepastian dengan alasan yang “ada-ada saja”. Sebenarnya, saya menulis blog ini dalam kondisi hati yang cukup kacau karena sudah terlanjur berharap dengan perusahaan ini. Tetapi setelah dipikir kembali HRD di perusahaan kali ini lucu juga hahaha... cukup untuk memberi saran direktur perusahaan untuk melakukkan evaluasi kinerja HRD.

Mari mulai cerita saya dengan HRD ini,

Perusahaan ini, salah satu perusahaan konsultan yang entah bagaimana saya benar-benar menginginkannya karena jarang ada perusahaan konsultan yang mengkhususkan diri di bidang ini namun membuka rekrutmen melalui platform pencari kerja maupun sosial media mereka, bisa dibilang konsultan ini cukup aktif di dunia sosial media. Meskipun saya perhatikan juga, timeline mereka sangat kacau dan tidak jelas dalam mengeluarkan konten. Dalam artian, minggu ini bisa 2 hingga 3 konten, kemudian kosong hingga 3 minggu kemudian, padahal untuk ukuran tampilan konten perusahaan konsultan, ini cukup menarik.

Disisi lain, saya melihat website konsultan ini cukup bagus, dalam artian nama perusahaan ini akan muncul ketika kita menggunakan keyword sederhana saja. Artinya, ketika saya seorang klien dan saya mencari seorang konsultan dibidang ini, saya akan langsung menemukan konsultan ini di laman pencarian teratas. Tapi disisi lain, saya juga melihat penilaian publik terhadap konsultan ini menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya jika dibandingkan dengan konsultan lain yang bekerja dibidang ini tentunya. Wow! Sebegitu niatnya saya, sampai membuat bahan evaluasi kecil terhadap performa perusahaan ini berkaitan dengan posisi yang saya lamar juga sebenarnya.

Saya mendaftar ke perusahaan konsultan ini di bulan September 2020, kemudian saya ada ditahap lanjutan, ditahap lanjutan ini saya mulai melihat kelakuan “ada-ada saja” dari sisi HRD, meskipun saya masih bisa memaklumi karena katanya terjadi kesalahan teknis, dan tanpa memberikan opsi, HRD tersebut langsung menentukan waktu tesnya akan diundur besok. Hal yang saya maksud “ada-ada saja” karena teman seperguruan tinggi saya yang juga mendaftar di tempat ini, menunggu hingga pukul 16.00 WIB, karena ternyata HRDnya hanya memberi kabar pada saya saja. Terlebih lagi, email yang menghubungi saya juga tidak fokus di satu email, terkadang si A, besoknya si B, dan pernah juga tertanda managing partner mereka dengan tanda-tanda tidak jelas sebagai pengikutnya ----/----/---- (ya tanda seperti itu). Entah mereka kurang teliti atau memang seperti itu template nya, cukup kelihatan kacau hehe...

Sebenarnya perasaan saya mulai resah, karena bersamaan dengan pelaksanaan tes lanjutan itu, mereka mengeluarkan konten pemberitahuaan rekrutment di posisi yang saya lamar dengan spesifikasi tambahan yaitu laki-laki. Lebih lanjut di proses rekrutmen itu, hanya saya yang perempuan. Lebih dari itu, ada teman saya yang tidak melamar diposisi ini, tapi melamar untuk posisi lain berbulan-bulan yang lalu, justru dikabari untuk tes diposisi yang saya lamar. Tentu dari sini saya sudah cukup menilai bahwa ada yang tidak beres di rekrutmen ini.

Lanjut, setelah saya tes lanjutan tersebut, HRD yang bertanggung jawab di pelaksanaan tes bilang untuk menunggu kabar hingga 2 minggu, setelah 2,5 minggu menunggu, karena saya cukup tepat waktu untuk urusan timeline, saya memberanikan diri bertanya, dan satu hari kemudian mereka memberikan kabar melalui surat resmi mereka bahwa saya tidak memenuhi kualifikasi mereka. Dalam hati saya berpikir “Apa mungkin karena mereka mencari laki-laki, ah... mungkin nggak, karena awalnya kan mereka tidak ada kualifikasi gender, toh posisi ini bukan posisi yang mengharuskan laki-laki yang melakukkannya”, maksud saya mereka bukan mencari aktor/aktris yang jelas kualifikasi gendernya sesuai naskah hahaha...

Satu hari kemudian, teman saya bertanya, terus saya bilang saya sudah dikabari dan tidak lolos, dan saya menyerankan teman saya untuk menghubungi mereka juga, dan teman saya melakukkan yang saya sarankan. Tapi ternyata perasangka saya sepertinya benar, karena teman saya, laki-laki, dan bilang kalau artikelnya pun dia dapatkan dari portal perusahaan itu, dan toefl nya setau saya juga dibawah kualifikasi yang seharusnya, dan diterima.

Hmm... intinya saya sedang mengalami kemelekatan (bahasa meditasinya gini) terhadap keyakinan bahwa mereka cukup sexist. Saya juga sebetulnya cukup menyadari bahwa disatu sisi, keberadaan laki-laki justru dibutuhkan perusahaan. Kadang saya sering bertanya-tanya, apa pertimbangan mereka menempatkan laki-laku dan perempuan menjadi syarat rekrutmen. Saya juga pernah berfikir bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa menentukan ingin lahir sebagai laki-laki atau perempuan.

Eh... giliran gini bilang perempuan juga bisa, giliran angkat galon bilangnya “kamu dong kan kamu laki-laki”, Eh.... TIDAK BERLAKU UNTUK SAYA. Huft rasanya saya ingin menyadarkan banyak perempuan bahwa banyak sekali pekerjaan yang bisa kita kerjakan termasuk mengangkat galon, entah sejak kapan pekerjaan menjadi punya klasifikasi gender berupa pekerjaan laki-laki dan pekerjaan perempuan. Sepertinya kalau saya bertanya kepada ibu saya tentang sejak kapan pekerjaan angkat galon menjadi pekerjaan laki-laki, ibu saya akan menjawab ajaran dari nenek saya, jika saya bertanya kepada nenek saya, nenek saya akan menjawab ajaran dari buyut saya, dan seterusnya. Layaknya lingkaran setan yang benar-benar harus dipecahkan bagaimanapun caranya.


Comments

Popular posts from this blog

Pekerja Ibu Kota

True Or False

Pemimpin dan Aktivis