Pekerja Ibu Kota
Hey,
kamu, bagaimana rasanya tumbuh menjadi dewasa? Menyenangkan? Atau justru
melelahkan?
Saat saya kuliah, banyak sekali
teman-teman yang bercita-cita bekerja di ibu kota, kota yang menurut survey
menduduki peringkat ketujuh dunia kota dengan kemacetan terparah. Memang siiih
jumlah pendapatan per-bulan, pengembangan karir, dan
pencarian relasi cukup menjanjikan disini jika dibandingkan kota lain di Indonesia. Namun, sadarkah kalian? Kota ini
betul-betul menguras waktu hidup kita pula.
Saya sempat berfikir, akankah
hidup ini hanya akan digunakan untuk bekerja dan mengumpulkan uang? Tapi,
bukankah harta yang susah payah kita kumpulkan itu tidak bisa dibawa ke liang
lahat?
Sebenarnya untuk siapa orang
mencari uang sebegitu payahnya? Untuk keturunannya kah? Tapi bukankah harta
yang dititipkan kepada keturunan kalian juga tidak luput dari perhitungan Tuhan
di kehidupan yang abadi? Akankah keturunan kalian mengelola harta itu dengan
baik dan membuat derajat kalian terangkat sampai ke surgaNya? Siapa yang bisa
menjamin?
Bukankah lebih baik jika kalian
bekerja sesuai porsinya, sesuai waktunya, dan kembali ke rumah tepat waktu?
Ajarkan anak tentang hal-hal bermanfaat yang nantinya, insyaallah, akan
mengangkat derajat kalian ke tempat yang lebih tinggi.
Mari bermain logika, kebanyakan
pekerja di Jakarta bertempat tinggal di luar Jakarta (Bekasi, Bogor, Depok,
Tangerang, Banten), hal ini dilakukkan karena gaji bulanan mereka kebanyakan
sangat kurang untuk menyicil angsuran rumah di Jakarta yang harganya
fantastis.
Tahukah kalian, kebanyakan dari
mereka berangkat saat subuh agar tidak terlambat sampai ke kantor agar tidak
dipotong upahnya? Mereka akan menempuh waktu sedikitnya 1,5jam untuk menuju ke
kantor. Bekerja di kantor sedikitnya hingga maghrib, delapan jam kerja kata
Pemerintah. Iya kalau mereka pulang tepat waktu, kalau tidak? Sampai di rumah
bukankah keluarga mereka juga sudah bersiap tidur?
AH SIALAN, rasanya pun manusia tidak memanusiakan manusia yang lain. Peraturan tenaga kerja bukan kah dibuat oleh manusia? Tapi mengapa aturan yang dibuat itu rasanya bukan dibuat oleh seorang manusia yang mengerti rasanya menjadi pekerja Jakarta? Ups, yang buat peraturan rasanya ingin saya tantang,
"Challenge Ala Milenial, Menghayati Peran Pekerja Jakarta Selama 1 Tahun Tanpa Bantuan, berangkat petang pulang petang dengan transportasi umum, akankah dia bertahan?".
Waktu memang harus dihargai,
tapi melihat kenyataan sekarang, bukankah waktu terasa sangat murah saat
bekerja? Belum lagi aturan pekerja hampir selalu dikembalikan kedalam kebijakan
perusahaan, iya jika memang perusahaannya punya kebijakan yang bijak, andai
bukan, bukankah pekerja akan merasa semakin tersiksa?
Rasanya, sungguh menyeramkan
menjadi pimpinan perusahaan-perusahaan di Jakarta, rasanya juga menyeramkan
menjadi Manager Personalia di perusahaan, salah-salah banyak hak pekerja yang
tidak manusiawi menjadikan mereka merasa terdzolimi.
Yasudahlah, bismillahirrahmanirrahim, semoga apa yang kita lakukkan tidak
menyakiti orang lain sebegitu sakitnya.
Comments
Post a Comment